Menjaga Kesehatan Mental, Memulihkan Diri Dari Luka

Setiap orang itu unik, punya masalah dan lukanya masing-masing, tugas kita adalah menjaga kesehatan mental dan memulihkan luka tersebut demi meraih masa depan yang lebih baik.

menjaga kesehatan mental

Memiliki anak kinestetis menjadi tantangan sendiri buatku. Saat melihat anak pertamaku, sepertinya beberapa bagian darinya seperti diriku di masa lalu. Ceria, sedikit tomboy, banyak gerak, selalu minta diperhatikan dan ditemani saat bermain di rumah. 

Tetapi, lagi-lagi aku selalu sibuk dengan diriku sendiri, merasa tidak ada waktu karena pekerjaan, selalu merasa salah, kurang bisa menjadi ibu yang baik, enggak sabar dan gampang tersulut emosi.

Aku sudah lama mengira, ada sesuatu yang salah pada diriku. Enggak lagi seceria dulu, enggak lagi energetik dan percaya diri.

Penggalan waktu bernama luka itu menghantam, saya dibuatnya tak berdaya. Tetapi satu hal yang saya yakini, saya butuh untuk sembuh. Pulih dari luka itu.

Saya memberanikan diri menghubungi mba Wid untuk mengikuti parade webinar yang diadakan mba Intan, founder Ruang Pulih untuk menginspirasi masyarakat Indonesia soal kesehatan  mental.

Saya akui, sebenarnya saya takut berkomitmen, karena menulis tentang kesehatan mental bukanlah perkara mudah. Butuh saat dimana mood saya baik, agar apa yang saya tulis tetap bisa bernilai. Mengandung positive value yang manfaatnya dirasakan bagi yang membaca tulisan saya.

Penggalan Bernama Luka 

Saat mendengarkan webinar sesi pertama, dr Rai yang dipandu mas Adhi Prayoga tentang kesehatan mental, tiba-tiba ingatan tentang masa lalu saya muncul. Perasaan batin seperti marah, kesepian, merasa tidak pernah dipercaya sepertinya menjadi luka. Datang berbarengan ketika saya tumbuh sebagai anak yang ingin dipeluk, diperhatikan, diberi pujian, motivasi dan kasih sayang. 

Saya sering dianggap mengganggu dan menyusahkan. Perkataan tersebut selalu terngiang-ngiang dan membuat saya sulit bangkit. Saya tiba-tiba menjadi pemurung, pendiam dan takut mengganggu siapapun. Jadilah saya nyaman ketika sendiri, menyelami diri dengan menulis di buku diary kala itu dan terkadang curhat di blog.

Luka itu nyata adanya, terjadi di masa ketika saya tumbuh tetapi tentu saja, terjadi di masa lalu. Saya merasa tidak bisa mengambil kendali. Setiap perasaan itu datang, saya merasa terluka, kesepian dan tak berdaya. Apalagi saya tahu betul, ucapan orangtua itu bagian dari doa.

Saya hampir tidak bisa menerima diri sendiri, benci karena dianggap menyusahkan. Ingin rasanya menikam perasaan tersebut. Terlebih ketika tiap kali saya mendaftar pekerjaan, muncul perasaan ciut dan tidak percaya diri karena alasan tersebut.

Lagi-lagi perasaan tersebut mengendalikan masa depan saya. Marah, sedih, dan kecewa bercampur jadi satu. Saya enggak bodoh, punya skill dan kemampuan, multitasking, bisa bekerjasama dalam tim seperti yang dibutuhkan perusahaan tetapi hanya merasa tak berdaya. 

Suatu kali, ada perasaan ingin klarifikasi dengan perihal apa yang saya alami. Tetapi, sosok yang menurut saya menakutkan itu membuat ciut segalanya. Saya tak sanggup, saya takut emosi saya tersulut yang akhirnya melukai. 

Saya sempat merasa kalau beliau punya kecenderungan narcissistic personality disorder. Dirinya yang dingin dan tidak peduli. Terkadang sarkasme yang beliau lakukan tidak diingatnya, justru terkesan sayalah yang membuat-buat. Saya terkadang merasa hanya punya seorang saja yang mengayomi, tempat saya mencurahkan perasaan. 

Memulai Memulihkan Diri

Dari banyak mengikuti kelas parenting dan kesehatan mental, saya jadi tahu istilah inner child dan beberapa solusi yang ditawarkan. Tulisan saya tentang Inner Child bisa dibaca di artikel Menyembuhkan Inner Child, Luka Pengasuhan. Saya juga sempat melakukan terapi diri untuk memulihkan luka tersebut, meski ingin menemui psikiater. Beberapa diantaranya :

1. Menutup pertanyaan mengapa hal ini terjadi?

Tentu saja, setiap kejadian yang saya alami tak  bisa lepas dari kesalahan baik saya pribadi maupun orantua. Namun, rasa-rasanya saya kesulitan menemukan solusi karena tiap kali bersikeras melupakan, ingatan saya justru bersikeras membuka lebih dalam. 

Saya kemudian meyakini, apa-apa yang terjadi, merupakan buah kesalahan saya tapi tentu saja tak lepas dari takdir Allah. Sebuah perjalanan hidup yang harus saya alami untuk mendewasakan diri.

2. Self Love

Saya berhak dicintai, berhak menerima pelukan hangat. Tetapi meski tak dipahami, saya berusaha memahami diri sendiri. Saya enggak lagi mengharap orang lain untuk paham atas apa yang saya alami dan rasakan. Bukankah hanya kecewa yang kita dapatkan ketika bergantung pada manusia?

Saya mengembalikan rasa dependent itu akhirnya hanya kepada Sang Pencipta. Hanya saja, saya harus lebih banyak bersyukur, enggak lagi menuntut semesta dengan perasaan ketakpunyaan yang ada. Saya ingat, pernah membaca buku tentang Low of attraction yang ditulis Rondha Byrne ketika kita meminta apa yang tidak kita punya, semesta justru fokus menunjukkan hal tersebut. 

Sebagai contoh, ketika kita mohon kekuatan dengan perasaan dan rasa lemah, justru seolah semesta sedang menunjuk banyak kejadian yang membuktikan kita lemah. Saat kita meminta kecukupan atau kekayaan di saat kurang syukur atas apa yang Allah berikan (kufur), justru semesta semakin menunjukan kesulitan-kesulitan yang kita alami.

Syukur..syukur..dan syukur.. Hal luar biasa yang dikaruniakan Allah kepada kita menjadi energi positif yang membuat saya enggak lagi berharap apa yang enggak ada ( yang kita inginkan) dengan perasaan tidak akan memiliki. 

Saya justru berfokus di masa sekarang, inilah rezeki yang Allah berikan dan patut kita syukuri. Perasaan jadi tenang setelahnya, enggak lagi kecewa, enggak lagi frustasi dan menuntut. Malah saat ini, saya merasa berenergi, lebih mudah berpikir waras. Hati jadi adem, seperti ada ruang penuh oksigen dan ber-AC. 

Saya pernah posting tentang self love di artikel 5 Cara Terbaik Mewujudkan Self Love dan Cara Mencintai Diri

Ternyata pandemi tidak selalu buruk, fase waktu yang berjalan lambat ini menjadi momen perenungan besar yang membuat saya makin tumbuh, makin bahagia.

3. Istigfar

Mungkin di masa lalu saya punya salah, saya berusaha memaafkan diri dengan banyak meminta maaf kepada Sang Pencipta.

Dari perjalanan memulihkan diri tersebut, saya belum juga dibilang sembuh dari luka. Kemarahan karena kesalahan kecil yang dilakukan anak terkadang masih membuat saya marah. Bedanya, sekarang lebih terkontrol.

Saya jadi ingat pesan dr. I Gusti Rai dalam parade 1 webinar yang diadakan Ruang Pulih, atas kerjasama mba Intan Maria Liem dan mas Adi Prayoga tanggal 15 Agustus 2021 lalu. Yang perlu kita lakukan saat ini adalah 

1. Memaknai luka dari sudut pandang yang berbeda dan mengambil hikmahnya.

Seseorang  mungkin masih belum terbebas dari luka masa lalu yang menyakiti sehingga bertindak sesuai dengan pengalaman tersebut.

Saya menyadari ketika seseorang mencoba mengambil kendali perasaan kita dengan marah, mungkin karena ada kesalahan dari kita dan saya tak bisa memungkiri hal tersebut.

Mungkin juga, seorang yang melukai tersebut juga sedang terluka. Saya mencoba mengendalikan perasaan dan mengenali apa yang sedang terjadi. 

2. Tidak perlu terlalu bereaksi

Reaksi seperti marah, sedih dan kecewa adalah hak perasaan. Tetapi jangan biarkan hal tersebut mengambil kendali, mengatur diri kita sehingga membuat kualitas hidup menurun.

Jangan lagi berpikir berhenti mengejar sesuatu karena kekangan perasaan masa lalu yang menyertai. 

Tak perlu lagi kecewa, marah, sedih ketika menerima perkataan atau perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain. Bisa jadi, mereka fans berat kita, hehe..

3. Respon Dahulu 

Ketika muncul stressor dari luar, jangan buru-buru bereaksi. Ambil nafas panjang dan respon hal tersebut. Amati dan pikirkan, lalu resapi lebih dalam, jangan-jangan ada yang salah dari diri kita atau orang lain sehingga terjadi suatu hal yang membuat kita tak nyaman. 

Saya jadi berpikir panjang, ingat kata-kata mas Adhi Prayoga menyimpulkan apa yang disampaikan dr. Rai, satu langkah kecil memulai kesembuhan mental lebih penting dari 1000 langkah yang dikhayalkan.

See, jangan takut melangkah. Kenali setiap peristiwa dengan baik sebelum bereaksi. Dulu mungkin kita merespon suatu kejadian dengan marah, tapi hal tersebut telah menjadi kenangan. Yang ada adalah fokus saat ini.

Menjaga Kesehatan Mental, Agar Tetap Waras

Saya menyadari satu hal ketika mas Adji Santosoputro memberikan advice-nya. Memang benar, inner child itu nyata di masa lalu. Lukanya nyata di ingatan. Sayangnya, hal itu bukan kenyataan di masa sekarang. Kenangan pahit dan manis akan tetap jadi kenangan yang perlu dilepas karena memang sudah berlalu.

Kita hidup saat ini, drama inner child perlu dituntaskan. Enggak boleh bernyaman-nyaman dengan nikmatnya drama bersedih, kecewa dan marah yang ada di bayangan. Hal itu sudah jadi masa lalu. 

Terkadang kita enggak perlu minta maaf terhadap diri sendiri, bisa jadi orangtua enggak benar-benar salah dan kita juga enggak benar-benar benar. Beri jarak pada masa lalu agar tetap waras.

Adakah teman-teman yang juga mau berbagi perasaan dengan saya? Apa yang akan kamu lakukan untuk menjaga kesehatan mental agar tetap waras?

Semoga tulisan saya membantu ya, sudah berulang kali ketik berparagraf-paragraf dan delete all. Enggak mudah menuliskan ini, tetapi saya bisa.

Tidak ada komentar