Cara Mencintai Diri, Haruskah Seperti Orang Lain?

Haruskah kita menjadi beda, atau seperti orang lain kebanyakan agar bisa dikata bahagia dan mencintai diri sendiri?

cara mencintai diri


Pengalaman Terluka Secara Mental

Sebagian mungkin menafsirkan skincare-an, cemal-cemil, jalan-jalan, ndengerin musik, baca buku, belanja merupakan salah satu wujud self love. Enggak ada yang salah sih, terutama sebagai ibu kita butuh yang namanya me time. Tapi sebelum membahas perihal memanjakan diri dan merilekskan pikiran, saya ingin mengajak teman-teman berpikir darimana pikiran penat, lelah hayati itu sebagian bermula.

Saat terluka, rasanya memaafkan menjadi sebuah kata yang paling sulit diucapkan. Seperti judul lagu yang dinyanyikan Elton John ketika itu, "Sorry seems to be the hardest word". Padahal memaafkan bisa jadi salah satu kunci bertumbuh, meringankan beban dan wujud menyayangi diri. Sebelumnya saya pernah menuliskan tentang Self Love ini di postingan saya yang berjudul 5 Cara Terbaik Mewujudkan Self Love

Ternyata, cakupan tentang bagaimana mencintai diri itu luas. Kalau kata kebanyakan kaum milenial, self love is another level of happiness, mencintai diri sendiri itu merupakan derajat kebahagiaan lain. Salah satu bagian yang menunjukkan bahwa kita bahagia adalah dengan mencintai diri sendiri.

Saya jadi ingat perjalanan hidup yang akhirnya menjadikan saya sedikit menarik diri dari pergaulan. Sempat ada rasa minder, enggak berharga karena kekangan perasaan sendiri. Ditambah pernah berdampingan dengan seorang yang saya duga mengalami Narcissistic Personality Disorder, sebuah gangguan mental yang membuat korbannya merasa enggak nyaman bahkan menderita secara mental. 

Narcissistic Personality Disorder (NPD) sendiri merupakan gangguan kepribadian narsis. Berbeda dengan narsisme (kekaguman pada diri sendiri), seorang narsistik memiliki kebutuhan untuk dipuji, dianggap besar dan pintar dengan merendahkan orang lain melalui gaslighting. Istilah apa lagi ituu? Hadeeh berat ya pembahasannya..

Dilansir dari halodoc, gaslighting ini salah satu bentuk manipulasi untuk mengontrol seseorang agar terlihat lebih gagah, lebih hebat dan lebih berkuasa dan membuat korbannya jadi ragu terhadap diri sendiri.

Saya sendiri memahami soal gaslighting dan gangguan narsistik ini setelah membaca salah satu perjalanan hidup seorang teman blogger di Buku Pulih, Antologi perjuangan sembuh dari bermacam luka. Dari situ saya berburu informasi tentang gangguan narsistik ini baik di jurnal, youtube, podcast maupun postingan blog. Saya justru mendapatkan informasi spesifik bagaimana seorang korban narsistik harus berjuang melepas belenggu verbal maupun non verbal yang dilakukan seorang pengidap narsistik ini dari Quora dan Medium. Banyak sebenarnya novel maupun literatur yang membahas soal narsistik ini jika teman-teman searching di Google.

Hmmm, oke fix. Saya menyadari ada banyak luka yang harus disembuhkan, perasaan tak aman dan beban sakit yang harus dilepas. Saya sempat sedikit menuliskan caranya di artikel saya yang berjudul Menyembuhkan inner child, luka pengasuhan.

Cara mencintai diri ala saya

Mungkin self love ala saya enggak jauh berbeda dengan teman-teman lain. Tapi saya yakin, setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menghargai dirinya. Standar kebahagiaan masing-masing tentu berbeda. 
Ada yang dengan mendengarkan lagu, suara kicau burung di pagi hari, melihat matahari bersinar cerah udah  bahagia. Ada pula yang hari-harinya ada keharusan cukup uang, bisa nyobain makanan hits, nongki cantik, baru bisa bahagia. Saya sendiri berusaha menyederhanakan arti bahagia itu dengan menyayangi diri secara sederhana, berusaha tetap sesuai tuntunan agama seperti yang saya tuliskan berikut:

1. Memenuhi hak tubuh

Tubuh memiliki hak untuk tetap sehat dan bugar. Mulai dari kepala hingga ujung kaki, semua memiliki hak sama untuk dirawat dan disayangi.
Hak-hak tersebut bisa berwujud :

Mindfull and healthy eating

Tahun lalu, saya sempat sakit kepala berminggu-minggu dan setelah cek darah ternyata kadar kolesterol saya cukup tinggi. Sudah melewati batas normal. Dan lagi saya juga punya GERD yang terkadang kambuh terutama saat stress meningkat, banyak lembur, minum kopi dan gak bisa mengontrol makan pedas 

Ini dikarenakan mungkin terlalu berlebihan mengkonsumsi makanan kurang sehat. Kemudian saat mengikuti sebuah kajian tentang mindfull eating saya jadi tahu bahwa makan itu butuh kesadaran. Makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang, makan dengan menu yang baik dan sadar penuh. Tidak "memaksa" nyemil, meski sudah makan. Makan dengan mendasarkan dari bahan yang baik, pengolahan yang benar dan sehat, halalan thayiban. Makan yang tidak berlebihan, tidak terlalu banyak gula, garam, daging merah dan lemak.

Olahraga

Saat tubuh sehat, semua yang kita lakukan terasa lebih mudah. Olahraga modalnya, meski cuma gerak ringan sehabis subuh, sekedar memasukkan lebih banyak oksigen dalam darah, rasanya sudah happy.

Apalagi jika bisa jalan kaki atau lari pagi, rasanya lebih bugar dan bahagia. Saat olahraga, tubuh membentuk dopamin dan endorfin yang menyebabkan seseorang bertambah bahagia selepas olahraga.

Di masa pandemi seperti sekarang, ada banyak waktu untuk memperhatikan lebih kesehatan. Beberapa olahraga yang cukup populer saat pandemi adalah sepeda, jalan kaki dan yoga.

naik sepeda
Bersepeda jadi salah satu olahraga populer saat pandemi
(by canva)

Cukup istirahat

Awal-awal membangun blog, saya terkadang sampai merasa kurang waras. Ini dikarenakan kurangnya istirahat dan kurang tidur akibat terlalu sering bongkar pasang, hapus-edit template blog, belajar materi untuk mengajar, bikin daily plan dan kejar deadline saat anak-anak sudah lelap. Hasilnya, saya lebih sering uring-uringan dan ngantuk sepanjang hari.

Sejak ramadhan kemarin, saya berusaha mengubah pola tidur dan kebiasaan begadang saya. Hasilnya, pikiran lebih fresh, stres lebih bisa dikontrol dan enggak ngantuk saat siang.

Kebiasaan baik 

Rasulullah sendiri menanamkan sunnah seperti tidak tidur setelah subuh, setelah asar dan setelah mahgrib, juga menjaga kebersihan diri seperti memotong kuku, mencabut bulu ketiak, memotong rambut kemaluan dan mandi. Kebiasaan baik selain membuat badan lebih bersih, sehat juga mendatangkan mood yang positif.

Skincare-an juga salah satu wujud kita menjaga diri, dzalim juga sih kalau kulit kering, kusam dan jerawat dimana-mana tapi didiemin enggak diatasi. Skincare routine pun bisa dilakukan, tak harus menggunakan perawatan kulit yang mahal, asal aman dan bermanfaat menjaga kesehatan kulit.

2. Memenuhi hak akal

Selain tubuh, otak juga butuh nutrisi. Beberapa cara saya memenuhi hak akal antara lain dengan

Membaca

Sarana untuk menambah nutrisi akal adalah dengan membaca. Banyak bahan bacaan yang bisa seperti buku, postingan blog, maupun informasi dari internet.

Agar nggak jenuh, nggak cuma buku non fiksi dan motivasi yang saya baca, tetapi novel, cerpen maupun menjadwalkan ikut blogwalking untuk memperkaya wawasan sekaligus mengulik ide untuk postingan blog.

Ikut Webinar

Agar bisa menjadi guru yang baik untuk anak-anak sekaligus mengembangkan kemampuan blogging, saya juga memenuhi hak diri dengan belajar melalui platform seperti zoom, WhatsApp, maupun google meet untuk menambah wawasan. 

3. Memenuhi hak hati

Manusia tersusun dari 3 bagian, diciptakan dari tanah, ditiupkan ruh dan diberi akal. Ruh sendiri dipengaruhi oleh bagaimana kita mengelola hati. Enggak cuma menuntut ilmu dan menjalani pola hidup sehat, hati berhak mendapatkan nutrisi berupa 

Amal shalih

Sebagai manusia yang lemah dan banyak dosa, usaha kita memenuhi hak hati tentunya bisa berwujud memperbanyak istighfar, menjalankan ibadah fardhu dan sunnah sesuai tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW, menjaga aib sesama, tidak berkata menyakiti. Saya pribadi masih belajar bagaimana memperbaiki diri untuk bekal nanti sekaligus memenuhi hak hati agar tenteram dan damai.

Berpikir positif

Sebagian prasangka adalah dosa
(Al Hujurat 13)

Pernah nggak sih, ke-GeEr-an pas baca salah satu status teman? Jangan-jangan itu aku, dia atau mereka? Hehe

Padahal sudah diingetin kalau sebagian prasangka itu dosa. Banyak hubungan persahabatan berakhir enggak baik karena prasangka ini. Prasangka buruk yang disimpan di hati bakal jadi penyakit, disebarin jadi ghibah dan fitnah.
Terlebih di Surat Al Hujurat itu kita diperintahkan enggak cuma untuk khusnudzon alias berbaik sangka, tetapi juga dengan enggak mencari-cari kesalahan orang lain, mengumbar aib dan ghibah.

Ketika kita mengawali pagi dengan mood yang baik, berpikir positif, berbaik sangka kepada sang Pencipta maupun kepada sesama semua yang kita jalankan jadi lebih ringan dan enggak bikin lelah hayati.

Jelas soal ini, saya masih butuh berbenah agar selalu berpikir positif meski kadang banyak respon negatif dari diri sendiri maupun dari bisikan setan, astagfirullah..naudzubillah..

Beberapa cara saya mencintai diri diatas pastinya berbeda dengan self love ala teman-teman. Kita enggak bisa menyamakan standar diri kita untuk dipakai orang lain. Rasanya enggak nyaman juga kan, memakai cara orang lain agar kita sebahagia mereka? 

Saya cuma meyakini satu, soal kebaikan boleh banget berlomba-lomba, tetapi soal kebahagiaan, cara dan standarnya kembali ke diri masing-masing. Komentar yuk, gimana cara teman-teman mencintai diri sendiri, apakah teman-teman menerapkan standar tertentu untuk mengukur kebahagiaan?

2 komentar