Menyembuhkan Inner Child Menuntaskan Luka Pengasuhan

Menyembuhkan inner Child menuntaskan luka pengasuhan

Menjadi orangtua bukanlah perkara mudah. Memperlajari ilmu parenting tak lantas membuat perilaku kita berubah dalam mendidik anak kecuali disertai tekad yang besar ingin memperbaiki diri, apalagi jika dalam diri masih menyimpan luka masa lalu akibat kesalahan pengasuhan yang kita kenal sebagai inner child. Lalu bagaimana caranya self healing atau menyembuhkan luka pengasuhan yang masih belum tuntas hingga dewasa ?

Apa Itu Inner Child?


Suatu hari ketika selesai memarahi putrinya, sang ibu menangis karena hal serupa pernah beliau dapatkan semasa kecil, padahal kenangan tersebut begitu beliau benci. Lain hari, tiba-tiba beliau mendiamkan putrinya tanpa sebab dan akhirnya sang anak terluka? Sang anak akhirnya merasa semua yang dilakukan salah dan membenci kejadian tersebut. Bertahun lamanya hal tersebut dipendam hingga saat berkeluarga, sang anak menyadari ada yang salah dalam dirinya. Ternyata pola didikan yang diterima semasa kecil menyisakan luka dan tanpa sadar diimitasi polanya. Kadang, saat terpancing marah akhirnya cubitan kecil mendarat di tangan mungil anaknya. Padahal perbuatan tersebut harusnya bisa dicegah.

Inner child sendiri sebetulnya merupakan jiwa anak-anak yang masih ingin direngkuh dalam diri kita, lebih tepatnya luka semasa kecil (belum baligh) yang belum tuntas dan terekam alam bawah sadar hingga dewasa. Hal tersebut tanpa kita sadari ternyata berpengaruh pada respon kita terhadap suatu masalah atau keadaaan. Pemicunya bisa timbul ketika kita merasa tidak nyaman terhadap suatu hal, seperti sindiran, bentuk perhatian, desakan atau ketika merasa tidak dilibatkan.

Luka terpendam tersebut akhirnya mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan suami, anak, dan lingkungan sekitar kita. Sebagai contoh :

Contoh 1 : jika dari kecil seorang anak sering dituduh atau disalahkan tanpa sebab oleh orangtuanya, maka tanpa disadari pola tersebut diimitasi atau ditiru sehingga ia mendidik dengan cara yang tak jauh berbeda dengan orangtuanya ditambah rasa rendah diri yang timbul tanpa ia sadari penyebabnya.

Contoh 2 : Si A, istri yang lahir dalam keluarga pekerja keras dan cenderung menyalahkan akan sering berkonflik ketika menikah dengan B yang lahir dari keluarga B yang jarang mengingatkan. Si B yang easy going sementara A yang perfeksionis membutuhkan jembatan penyelesaian terhadap pola asuh yang salah tersebut dengan menyadari kekurangan masing-masing.

Menyembuhkan inner Child menuntaskan luka pengasuhan
Quote pengasuhan yang saya suka dari Dorothy Law
 Anak Belajar dari Kehidupannya

Ciri-ciri Inner Child yang belum tuntas


Dikutip dari Loonerwolf.com , seseorang yang masih memiliki inner child akan memiliki tanda seperti:


  1. Kurang fleksibel dan mudah marah
  2. Insecure atau tak nyaman berada di sekitar orang banyak
  3. Sulit menunjukkan ekspresi ketika senang, sedih, marah, terluka atau tidak nyaman
  4. Memiliki rasa bersalah yang berlebihan dan minder
  5. Mudah marah
  6. Merasa kesepian
  7. Merasa bukan dirinya ketika berbuat sesuatu yang salah
  8. Perfeksionis
  9. Sulit mempercayai orang lain
  10. Sulit dekat dengan orangtua

Cara Menyembuhkan Luka Pengasuhan


Secara garis besar, ada dua metode yang diterapkan untuk menyembuhkan inner child itu sendiri yaitu

1. Dengan Bantuan Orang Lain


Melalui bantuan orang lain ini bisa berwujud curhat kepada suami misalnya atau konsultasi terapi psikiatri.

2. Self Healing


Menyembuhkan inner child bisa dilakukan sendiri dengan cara

a. Mengakui

Dengan mengakui bahwa ada pribadi kita bermasalah dan harus disembuhkan akan mempermudah kita memulihkan luka itu sendiri

b. Memaafkan

Memaafkan kesalahan orangtua di masa lalu dan berusaha memperbaiki kembali hubungan yang ada akan mempermudah kita menyelesaikan inner child. Mengingat kenangan baik di masa kecil dan memahami peran orang tua yang tak mudah tentu bisa jadi sarana bersyukur bagaimana beruntungnya hidup kita. 
  1. Jika memungkinkan, bisa juga kok membicarakan hal yang membuat kita terluka dengan orang tua selama tak menyakiti, menyudutkan dan menyampaikannya dengan luapan emosi berlebihan. 
  2. Jika hal tersebut dirasa sulit, ada baiknya terima apa yang sudah terjadi. Ikhlaskan, toh semua yang kita alami tak luput dari yang Allah takdirkan.
  3. Mengingat kebaikan-kebaikan orangtua 
  4. Yakinkan diri bahwa kita layak disayangi, dihargai, dan bahagia
  5. Menyadari bahwa semua manusia bisa salah melakukan atau menyadari sesuatu
  6. Boleh kok menangis, tersenyum, tertawa, dan menunjukkan kesedihan. Kita bebas mengekspresikan diri selama tak melanggar norma yang ada.
  7. Berdamai dengan diri, belajar bersabar saat kita berhak marah. Menarik nafas panjang
Menyembuhkan inner Child menuntaskan luka pengasuhan
Penggalan surat yang saya suka. Membantu membuat kita mengikhlaskan dan menerima yang menjadi ketetapanNYA

Anak-anak yang bahagia adalah anak-anak yang tumbuh dari ibu yang bahagia juga. Jadi tugas utama kita adalah menuntaskan inner child kita sehingga mampu menjalani peran sebagai ibu dengan gembira. 


5 comments

  1. Halo mbak, salam kenal. Saya Devina. Saya baru baca tulisan ini. Makasih ya mbak sudah bahas soal ini. Jadi pengetahuan baru yg berdampak juga untuk pengasuhan anak. Ini tulisan yg bermanfaat hhhe.

    ReplyDelete
  2. Mengatasi inner child butuh proses mengenal diri ya? Self-acceptance?

    Awalnya innerchild kupikir sifat yang kekanakan lho ^^ eh, itu childish yak? ^^

    ReplyDelete
  3. Aku ngerasa relate setelah baca tulisan ini. Temanku ada dua orang yg punya luka inner child.

    ReplyDelete
  4. Aku pernah baca quote itu juga mba Sari. Tapi dari bukunya Kahlil Gibran. Baru tau atau baru inget ternyata sumber primernya dari Dorothy Lau yaah. Thanks mba for sharing

    ReplyDelete
  5. Jadilah ibu bahagia.. Agar anak2 tumbuh bahagia.. Makasih mba..

    ReplyDelete