Pengalaman Merawat Anak Sakit Tipes di Rumah

Anak terkena tipes ternyata tidak perlu rawat inap di rumah sakit, dalam postingan ini aku bercerita pengalamanku merawat anak sakit tipes di rumah. Ketika konsultasi ke dokter, aku bertanya soal makanan yang pantang dimakan ketika tipes dan apa yang sebaiknya orangtua lakukan di rumah agar anak lekas sembuh. Simak hingga selesai ya teman-teman!

merawat anak tipes

Penyebab dan Gejala Tipes

Beberapa waktu lalu, anakku Uty baru saja terkena tipes. Tipes, tifus, atau demam tifoid merupakan sebuah penyakit yang menyerang saluran pencernaan terutama usus. Penyebabnya adalah bakteri salmonella typhi yang bisa jadi terkontaminasi dalam air atau makanan yang kita konsumsi dan juga sanitasi yang kurang baik. Anak-anak yang daya tahan tubuhnya belum sekuat orang dewasa sangat rentan dengan tipes ini. Terlebih orangtua tidak bisa mengawasi penuh kebiasaannya selama di sekolah seperti mencuci tangan sebelum makan, jajan makanan yang sehat dan dalam kemasan yang higienis atau tidak jajan sembarang jajanan pinggir jalan.

Aku sempat mengira kalau Uty hanya terkena demam biasa. Beberapa hari sebelum demam, ia mengeluhkan sakit perut. "Bu, perut Uty panas dan sakit ", keluhnya ketika itu. Namun waktu itu aku sedikit mengabaikan karena siang hanya ngemil dan tak mau makan. Pikirku mungkin karena lapar, namun anehnya badannya terlihat lemas. Ketika demam, suhu tubuhnya cukup tinggi, di atas 38 derajat celcius. Kupikir, akan terkena flu karena mengeluhkan pusing. Uty juga muntah di sekolah sehingga aku menjemputnya lebih awal. Setelah muntah itu dan 3 hari konsumsi paracetamol namun panasnya belum juga reda, Uty kuajak pergi ke klinik. Dokter menyarankan untuk tes darah di lab karena gejalanya mirip dengan tifus.

Hasil Pemeriksaan Dokter

Setelah ke klinik, kami menuju laboratorium klinik Pramita Salatiga untuk uji sampel darah dan tes widal. Biaya untuk tes darah ini sekitar 360 ribu rupiah. Pagi Uty diambil darahnya dan siang menjelang sore hasilnya keluar. Hasil uji tersebut aku antarkan lagi ke klinik. Dokter menyatakan kalau Uty positif tipes. Dari hasil uji hematologi dan Widal tersebut, Uty dinyatakan positif typhoid. Pada jenis pemeriksaan Salmonela Typhi O nya 1/320, beberapa uji salmonella typhi lain juga positif. Menurut Alodokter, uji Widal dinyatakan positif jika aglutinin O nya menunjuk angka 1/320 atau 4x lipat dari jumlah semula. 

Gejala Tipes Pada Anak

Gejala tipes memang hampir mirip dengan Covid-19 dan demam berdarah. Bedanya, pada covid-19 biasanya disertai batuk atau gangguan pernafasan sedangkan pada demam berdarah muncul bintik-bintik merah pada tangan maupun bagian tubuh lain. Anak yang terkena demam typhoid alias tifus, biasanya menunjukkan tanda-tanda seperti

  • Suhu badan tinggi, lebih dari 38 derajat celcius dan bisa lebih tinggi ketika malam hari
  • Berkeringat di malam hari namun merasakan kedinginan
  • Badan lemas dan nafsu makan berkurang
  • Lidah berwarna putih
  • Mual atau bahkan muntah
  • Sakit perut, perut terasa panas
  • Sakit kepala
  • Tidak nafsu makan
  • Uji Widal positif
  • Beberapa anak bisa mengalami sembelit atau diare

Jika anak menunjukkan gejala di atas, sebaiknya segera ke dokter ya teman-teman. Menurut beberapa sumber yang aku baca, resiko tipes yang tidak segera ditangani bisa menyebabkan pendarahan saluran cerna hingga gagal jantung. Hal ini yang bikin saya deg-degan ketika tahu Uty tipes.

Merawat Anak Tipes di Rumah

Aku sempat mengira, anak yang tipes harus menjalani opname. Alhamdulillahnya ternyata anak yang terkena tipes bisa menjalani rawat jalan di rumah. Dokter meresepkan antibiotik, vitamin dan paracetamol untuk mengatasi tipes, mempercepat penyembuhan dan mengatasi pusingnya. Dokter juga menyarankan agar Uty bed rest, tidak boleh capek, loncat-loncat atau lari dan sebaiknya banyak berbaring untuk sementara waktu hingga ia pulih. Beberapa hal yang bisa teman-teman lakukan saat merawat anak yang terkena tipes di rumah antara lain

1. Minta anak berbaring (bed rest)

Meski sedang sakit, terkadang anak memaksakan dirinya untuk bermain. Baik dengan saudara atau temannya. Anak yang terkena tipes sebaiknya tidak banyak bergerak apalagi lompat-lompat, jalan-jalan atau melakukan aktivitas berat. Anak tidak boleh capek dan sebaiknya minta anak berbaring di tempat tidur.

2. Konsumsi air putih yang cukup

Karena nafsu makan yang berkurang dan merasa kedinginan, anak jadi enggan minum air putih. Untuk menghindari dehidrasi, sebaiknya minta anak minum air putih untuk mengganti cairan yang hilang dan mengurangi panas di tubuh. Anak juga bisa diberi minuman pengganti ion, buah-buahan yang mengandung banyak air atau air kelapa.

3. Berikan obat secara teratur

Berikan antibiotik secara teratur sesuai dengan resep yang diberikan dari dokter dan habiskan meski tipesnya sudah sembuh. Berikan vitamin dan hentikan paracetamol jika anak tak lagi merasakan sakit kepala.

4. Berikan Makanan Tinggi Kalori

Karena enggan mengonsumsi makanan, berikan makanan tinggi kalori namun rendah serat dengan porsi kecil tetapi sering. Alternatif makanan tinggi kalori yang cocok untuk anak tipes antara lain, pisang, roti tawar, bubur atau nasi lembek, mashed potato ( kentang kukus yang lembut ), alpukat atau makanan lain yang mudah diolah tubuh.

Anak yang terkena tipes terkadang tetap ingin mandi, seperti Uty. Yang aku lakukan adalah menyiapkan air hangat untuk Uty mandi dan menggosokkan minyak telon ke perutnya kemudian memintanya beristirahat kembali. Tapi, tidak ada kewajiban anak harus mandi atau tidak, tergantung daya tahan dan kekuatan anak.

Pantangan Selama Tifus

Agar anak segera pulih dari tipes, sebaiknya lakukan hal-hal berikut

1. Tidak memberikan obat diluar resep dokter

Banyak mitos seputar pemberian obat tipes dari cacing. Baik yang berbentuk kapsul maupun cair, obat tipes dari cacing Lumbricus sp tidak efektif menyembuhkan atau membunuh bakteri pada tipes. Dilansir dari Halodoc, obat cacing yang berasal dari Lumbricus sp hanya efektif sebagai penurun panas pada penderita tipes namun tidak efektif untuk membunuh bakteri penyebab tifus itu sendiri.

2. Hindari Makanan Pedas dan Bersantan

Makanan yang pedas sebaiknya dihindari selama tipes karena bisa mengakibatkan radang, makanan bersantan juga sebaiknya dihindari karena nafsu makan yang kurang menyebabkan asam lambung yang cukup tinggi dan konsumsi makanan bersantan menyebabkan lambung terasa perih.

pantangan saat tipes
Beberapa pantangan saat anak terkena tipes

3. Kurangi makanan berserat selama tipes

Makanan kaya serat cenderung sulit dicerna dan bisa menyebabkan luka usus pada penderita demam tifoid alias tipus. Jadi, sebaiknya dihindari makanan berbahan kacang-kacang seperti kedelai, kacang hijau, kacang merah, almond, pistachio dan berbahan biji-bijian seperti barley, 

4. Hindari makanan olahan

Mie instan, bakso, nugget, sosis atau makanan berlemak dan saus sebaiknya dihindari. Alasan utamanya, kandungan MSG, kandungan lemak yang tinggi dan tingkat higienitas makanan tersebut bisa mempengaruhi penderita tipes. Ketika anak sakit kepala, MSG bisa memicu sakit kepala yang lebih berat.

5. Hindari makanan mentah

Makanan yang tidak dimasak maupun makanan setengah matang memungkinkan bakteri masih dapat berkembang biak sehingga meningkatkan resiko penyakit tipes. Sebaiknya hindari konsumsi salad, karedok atau kubis dan daging, telur maupun ikan yang dimasak setengah matang.

6. Hindari banyak gerak

Untuk mengatasi fisik yang lemah selama tipes, sebaiknya beri anak cairan yang cukup, makanan tinggi kalori dan hindari banyak gerak dan perbanyak berbaring hingga fisik pulih. Berikan juga tambahan suplemen atau vitamin untuk mempercepat pemulihan.

Anak yang tipes membutuhkan banyak kalori tinggi dan makanan yang mudah diserap tubuh. Cukupi kebutuhan air minumnya dan perbanyak istirahat. Semoga ananda lekas sembuh dan jangan lupa share jika dirasa info yang aku bagikan di atas bermanfaat. 

Next Post Previous Post
1 Comments
  • Vicky Laurentina
    Vicky Laurentina 24 Juni 2022 11.49

    Sebetulnya tidak apa-apa diberi MSG juga, karena efek nyeri kepalanya juga tidak terlalu signifikan. Nyeri kepala ini sebetulnya lebih disebabkan reaksi otak terhadap racun dari bakteri Salmonella-nya, bukan karena MSG yang dikonsumsinya.

Add Comment
comment url