Kebiasaan Baru Setelah Pandemi Covid-19

Kebiasaan Baru Setelah Pandemi Covid 19

Sepertinya mental kita sedang diuji di tengah pandemi Covid-19 ini ya. Stressor yang datang bisa saja membuat kita sedih, bosan, mengeluh atau marah dan bisa pula justru mengubah kita jadi makin termotivasi untuk memperbaiki diri. Tak cuma orang dewasa yang kebiasaaannya berubah after covid-19 ini datang, anak-anakpun mau tak mau harus beradaptasi dengan keadaan, bermain, berkegiatan dan belajar di rumah  seperti yang pemerintah harapkan saat ini.

Pandemi Covid-19

Pandemi menurut KBBI merupakan wabah yang tejadi serempak dimana-mana dan meliputi daerah yang luas. Kita bisa sebut wabah yang terjadi mendunia ini sebagai pandemi. Sedangkan Covid-19 sendiri menurut WHO merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh jenis corona virus baru yang tidak dikenal sebelum terjadi wabah di Wuhan, Tiongkok tahun 2019. Akibat terkena virus ini, penderita akan mengalami batuk kering, pilek, sakit tenggorokan, diare hingga rasa nyeri. Saat artikel ini aku tulis pemerintah tengah berupaya mencari obat untuk mengatasi Covid-19 itu sendiri. Karena ini virus, mungkin saat ini para ilmuwan tengah berjuang menciptakan vaksin Corona juga. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus ini. Dari himbauan untuk rajin cuci tangan, memakai masker, isolasi mandiri, penyemprotan disinfektan dan melarang adanya kerumunan. Banyak istilah-istilah baru yang akhirnya aku kenal semenjak pandemi ini. Awal ketika pandemi ini muncul di Wuhan, ada rasa cemas. Berbagai berita menyebut bahwa wabah virus tersebut telah masuk ke Indonesia, dan ternyata benar. Bahkan saat postingan ini aku tulis, sudah ada sekitar total 161.000 orang meninggal dari seluruh dunia akibat wabah Corona virus. Mau tak mau, kami sekeluarga melakukan upaya mandiri agar tetap aman dari serangan virus ini, yaitu dengan cara :

1. Menerapkan physical distancing (jaga jarak, menghindari segala bentuk kerumunan dan menunda segala bentuk kegiatan yang bersifat mengumpulkan orang) seperti mengganti arisan PKK yang biasanya kumpul-kumpul menjadi arisan online.

2. Rajin mencuci tangan dan wajib berganti pakaian setelah aktivitas keluar rumah seperti berbelanja sayur yang kulakukan 3 hari sekali.

3. Mengurangi aktivitas di luar ruangan apalagi mengajak balita. 

4. Selalu memakai masker ketika akan pergi 

5. Mengusahakan agar anak tetap bermain dan belajar di rumah

6. Menjaga kesehatan dengan tetap memperhatikan pemenuhan gizi seimbang

7. Berjemur

8. Olahraga ringan atau tetap beraktivitas seperti biasa

9. Stay positif

Sebetulnya after covid-19 ini muncul, banyak kebiasaan baru yang akhirnya jadi rutinitas di rumah. Stress yang bagi keluargaku mendatangkan kebiasaan positif seperti mencuci tangan, rajin bebersih dan kepedulian terhadap pentingnya kesehatan meningkat. Seperti Uty misalnya, semenjak aku ceritakan mengenai bagaimana virus ini menular, ia mulai suka cuci tangan, baik ketika akan makan maupun setelah dari luar rumah. Menurutku, Uty juga jadi lebih kalem dan emosinya lebih stabil. Barangkali karena merasa lebih sering mendapat perhatian orangtuanya dan tak banyak menerima efek negatif dari lingkungan.

Kegiatan Belajar di Rumah

Sebulan semenjak pemerintah mulai menerapkan sekolah berbasis online dan physical distancing, timbul rasa bosan pada diriku dan sudah kepengen jalan-jalan rasanya.  Uty juga demikian, kadangkala ia menanyakan kapan bisa sekolah lagi. Tetapi demi kebaikan bersama, aku tetap berusaha patuh terhadap perintah tersebut. Anakku sendiri awalnya bosan karena melakukan kegiatan itu-itu saja dan hanya menunggu intruksi yang diberikan bunda gurunya via pesan di whatsapp dan malahan ada beberapa kegiatan yang tak anakku lakukan karena moodnya kurang bagus atau karena sudah melakukan kegiatan belajar yang baginya lebih seru. Lalu, apa saja usaha yang aku lakukan untuk mengganti kegiatan belajarnya di sekolah? Berikut beberapa hal yang aku list untuk Uty meskipun ada yang belum terlaksana juga

2.1 Mengajarkan Kemandirian

Dengan kondisi pandemi demikian, fokusku sekarang lebih menekankan pada kemandiriannya dalam belajar dan mengajarkan life skill di rumah. Mengharapkan ketuntasan belajar pada anak kok rasanya seperti berat, apalagi tentunya banyak hal yang perlu dikerjakan selain menemaninya belajar. Di usia 3-5 tahun, anak lebih suka meniru dan melakukan semua kegiatan yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya. Tetapi, karena masing-masing anak memiliki kecepatan dan gaya belajar yang berbeda maka aku sesuaikan seperti gaya belajar Uty yang audio kinestetik. Ketika anak ingin membantu pekerjaan kita misalnya, maka berikan pekerjaan yang mudah dan bisa dilakukan. Sebagai contoh, ketika aku sedang menyetrika baju, maka Uty yang berkeinginan membantu aku ijinkan untuk ikut membantu menyetrika bajunya sendiri atau merapikan baju yang baru saja diambil dari jemuran untuk disetrika sekalian. Terkadang ia juga berinisiatif mengajak adeknya bermain ketika ibunya memasak.

2.2 Mengajarkan Hafalan Surat Pendek

Menceritakan tentang sebab turunnya surat pendek yang sedang dihafalkan serta mengulang-ulangnya di depan anak ternyata memudahkannya menghafal. Menghafal bisa dilakukan sambil bermain, tiduran di kamar, belajar atau memutar beberapa serial youtube yang menampilkan bacaan surat pendek tersebut. Ternyata beberapa kali hafalan surat pendek, hadis dan shalawat Uty sudah hafal semuanya meski belum laporan lagi ke bunda gurunya. PR ku yang belum tuntas adalah mengajarkannya Asmaul Husna karena ibunya juga agak gelagapan menghafalkan sesuai dengan yang diberikan sekolah.

2.3 Kegiatan Mewarnai

Uty selalu antusias dengan kegiatan ini. Selain stok buku mewarnai yang aku beli, aku juga sediakan beberapa print out hasil pencarianku di pinterest. Di kertas yang aku cetak tersebut ada seri belajar menggunting, mencocokkan bentuk dan gambar, dan mengeja huruf yang kesemuanya bisa diwarnai.

Tracking garis, menggunting dan mewarnai
Kiri : Lembar Mewarnai, Kanan : Permainan

2.4 Mengajarkan shalat berjamaah dan mengaji


Meski belum bisa rutin, tiap kali bapak dan ibunya  shalatbiasanya Uty akan mengikuti terutama saat shalat Maghrib dilanjutkan dengan belajar mengaji dan mengulang hafalan. Kadang karena ingin segera bisa, Uty meminta ngajinya langsung loncat halaman biar cepat bisa katanya.

2.5 Membiasakan kata Tolong, Maaf, Terimakasih dan Permisi

Kebiasaan tolong, terimakasih,  dan maaf sebenarnya sudah rutin dilakukan tinggal mengajarkan kata permisi yang masih asing untuk Uty.

2.6 Mengajarkan shirah

Mengajarkan shirah ternyata butuh ilmu yang cukup banyak, meski sudah paham tetapi ibuk perlu melengkapi referensi belajar sepertinya agar pemahaman Uty semakin bagus. Sementara shirah masih jadi PR buat ibu dan Uty.

Oiya, pak suami juga punya tambahan. Beliau mulai merutinkan berbahasa Jawa ke anak agar anak tak kehilangan jati dirinya sebagai orang Jawa dan paham bahasa daerahnya. Nguri-uri budaya Jawa istilahnya.

Lalu, apa keinginan terbesarku setelah pandemi ini?


Setelah pandemi ini berakhir, rasa-rasanya kok kita semacam dilahirkan kembali ya? Apalagi di ramadhan kali ini, suasana yang kita rasakan jauh berbeda dengan ramadhan sebelumnya. Ada rasa kangen tarawih ke masjid dan mudik ke tempat mertua yang tak bisa  kulakukan.  Dari sini, jadi ada niatan untuk memperbaiki diri lebih dari sebelumnya, ingin jauh lebih bermanfaat dan lebih produktif membagi waktu. Ingin merealisasikan beberapa target yang sempat tertunda setelah menikah seperti rutin membaca buku, merutinkan tilawah dan menambah beberapa ibadah lain. Juga membuat family projects agar tujuan keluarga kami tercapai. Semoga pandemi ini lekas berakhir ya dan kita berubah menjadi kupu-kupu cantik, menjadi manusia yang lebih baik setelahnya. Aamiin..


2 comments

  1. Subhanallah. Aamiin aamin. Semoga kita semua terlahir kembali, menjadi lebih baik.

    ReplyDelete