Agar Hobi Anak Jadi Jalan Rejekinya

Selain mengajarkan anak melek finansial, ada baiknya kita juga melatih kemampuannya dalam bidang bisnis juga lho. Kenapa? Karena semakin besar usianya, selain dituntut memiliki akhlak yang baik, anak juga diharapkan agar bisa mandiri. Bisnis itu bisa dimulai dari yang dekat dengan kita, misal hobi yang menyenangkan yang selama ini dilakukan anak bisa jadi suatu hobi yang menghasilkan juga Lo. Bagaimana langkah memulainya, simak ceritaku yuk!

Celotehan Anak dan Inspirasi Bisnis


Tempo waktu lalu tiba-tiba Uty nyeletuk ke saya waktu kita lagi ngobrol tentang kesenangannya beli mainan harus dikurangi karena boros,
Uty : " Buk, Uty pengen punya warung!"
Saya : " Punya warung? Buat apa?
Uty : " Nanti uangnya bisa ditabung"
Saya : " Nanti yang beli jajanannya Uty sendiri, dimakan Uty?
Uty : " Enggak, jadi kalau ada yang beli Uty yang layani"
Saya : " Nanti mau jualan dimana? Terus siapa yang beli?"
Uty : " Jualan di rumah, nanti dek Shafa, Azzam sama orang-orang suruh beli
Saya : " Kalau gak ada yang beli?"
Uty : " Nanti Uty yang bilang, beli..beli.."

Sayapun tertawa mendengar celotehan anak saya ini. Barangkali karena sering jajan di warung, dia jadi terkesima sama pemilik warung yang melayani pembeli. Dan waktu itu saya gak begitu peduli dengan kemauannya ini, masih kecil pikir saya. Hingga suatu kali saya blogwalking ke salah satu blog teman yang dia ketika kecil pengen banget punya warung juga cita-citanya. Saya jadi inget  juga mbak Ais, sepupu Uty yang diberi  berjualan stiker label pembatas buku di sekolah dan lumayan menghasilkan. Lantas, saya berfikir, bagaimana cara yang tepat untuk melatih anak berbisnis dari hobi yang ia jalankan.

Moziah Bridges, adalah nama salah satu pengusaha muda yang tergolong masih anak-anak ketika memulai bisnisnya yaitu di usia 11 tahun. Pemilik akun IG Mo'sBows ini awalnya sebal ketika menemui bow ( dasi kupu-kupu) berwarna hitam dan hanya bisa dipakai untuk acara formal. Kesukaannya berpenampilan rapi dan mengenakan dasi kupu-kupu membuatnya tertarik belajar menjahit ke neneknya. Dari hobinya memakai dasi kupu-kupu buatannya sendiri itulah awal mula bisnis itu berkembang hingga sang ibu menawarkan agar ia menjual dasi kupu-kupu yang terlalu banyak di rumah. Dari sinilah bisnis itu dimulai dan Moziah Bridges akhirnya menjadi pengusaha sukses seperti sekarang.

Kanan : Moziah Bridges
Source : IG Mo'sBows
Dari inspirasi diatas, lantas saya berpikir bagaimana cara mendidik anak yang tepat agar ia bisa berhasil bahkan dari hobi yang digelutinya. Kalau kata pepatah, Love what you do, Do what you love. Cintai apa yang kamu kerjakan dan kerjakanlah yang kamu cintai. Saya bahkan berkali-kali memperoleh penghasilan dari menjalankan hobi juga. Kesukaan saya ngoprek Corel Draw sekitar tahun 2011 itu membuahkan orderan MMT, Katalog, desain logo, flyer dan semacamnya kala itu dan menghasilkan pundi dari selain pekerjaan di kantor. Tapi karena pindah dan kurang telaten mengurusi printilan segala macam , semenjak menikah akhirnya hobi itu terhenti.

Selanjutnya, apa yang kita lakukan agar anak mau bekerja dan belajar sungguh-sungguh dalam menjalankan hobinya dan bagaimana cara yang tepat mendidik anak agar suatu saat hobinya bisa menghasilkan juga?

Hobi Menyenangkan itu Bisa Berpeluang Menghasilkan Juga


Hobi yang dijalani anak bisa jadi ladang penghasilan juga rupanya.  Apalagi  di era milenial sekarang ada beragam profesi baru yang bermula dari sekedar hobi, seperti fotografi, ngeblog, vlog, bookstagramer, memasak, mendesain seperti programer, desainer grafis, dan perancang busana. Lalu, apa yang sebaiknya hal yang perlu diterapkan ke anak?

A. Mendidik Anak Melek Finansial 


Kenapa hal ini penting dilakukan? Tentunya agar anak paham bagaimana cara mengelola keuangan yang tepat dan memilih kelak akan seperti apa ia. Seperti di bukunya Robert T Kiyosaki, memilih jadi pekerja, freelancer, pemilik bisnis atau bahkan investor.

1. Pahamkan Tentang Konsep Harta

Segala rezeki yang kita punya datangnya dari Allah. Cara memperolehnya bisa dengan berbagai cara. Mengajarkan anak bagaimana memperoleh harta dan memanfaatkannya jadi langkah pertama memberi pemahaman tentang konsep harta, terutama harta yang halal.

2. Pahamkan Tentang Kebutuhan dan Keinginan

Saya pribadi biasa memberi pilihan ketika anak ikut berbelanja dan menginginkan sesuatu. Cukup satu atau dua makanan saja yang dibeli, bukan semua jajanan yang ia mau wajib terbeli. Pertama kali hal ini diterapkan, Uty ketika itu menangis, tetapi lama kelamaan akhirnya ia paham dan tahu cara membedakan kebutuhan dan keinginan. Perlu komunikasi efektif juga dengan saudara dan orangtuanya saya agar Uty tak selalu membeli barang yang ia inginkan.

Baca juga : Tips Mengurangi Nafsu Jajan Anak

3. Melatihnya Menabung 

Melatih anak mengatur keuangan
Melatih Menabung
Dok.pri

Karena tidak semua barang yang diinginkan anak bisa kita penuhi saat itu juga, maka pahamkan anak konsep menabung. Mengajarkan konsep  menabung ke anak bisa dilakukan sesuai tahapan usianya. Untuk Itu yang baru berusia 4 tahun, menabung bisa jadi alasan karena ingin membeli sesuatu yang diinginkan atau untuk simpanan kebutuhan sekolah.

4. Mengajarkan Mengatur Keuangan

Ketika anak mulai bersekolah dan mendapatkan uang saku, kita bisa melatih anak mengatur pemasukan dan pengeluaran harian terus berlanjut mingguan hingga akhirnya bulanan sesuai tahapan usianya dan tingkat pemahamannya tentang uang.

Baca juga :

  Kakeibo, Mengatur Keuangan ala Jepang
  Tips Keuangan Ala Prita Ghozie
  5 Tanda Keuangan Rumah Tangga Tidak Sehat

5. Mengajarkan Anak Berbisnis

Berbisnis bisa dimulai dari hal yang sederhana, seperti menjual makanan, aksesoris lucu atau perlengkapan tulis di sekolah. Awali dengan modal minimum, misal cukup 10.000 rupiah untuk kulakan atau membuatkan camilan, anak bisa menjualnya ke teman-temannya. Dengan mengajarkan anak berbisnis, anak akan belajar bagaimana cara menjual, promosi, melihat peluang dan menambah kepercayaan dirinya

B. Dari Hobi jadi Sumber Kebahagiaan

Perlu 10.000 jam terbang agar seseorang menjadi ahli di bidangnya. Menekuni hobi dengan serius bisa membuat kita ahli di bidang tersebut. Lalu bagaimana langkah agar anak memiliki hobi yang bermanfaat untuk masa depannya?

1. Kenali Bakatnya

Ketika anak rela melakukan sesuatu berjam-jam dan melakukannya dengan bahagia, bisa jadi hal tersebutlah yang menjadi minat anak. Ada banyak ragam cara untuk mengenali minat dan bakat anak melalui beragam aktivitas yang ia lakukan sehari-hari. Mengenali bakat dan minat anak sedari dini lalu mengarahkannya ke dalam kegiatan yang positif membuat anak lebih bahagia karena pada akhirnya kita tak lagi membandingkan anak dengan anak lain tetapi jadi lebih fokus dalam pengembangan bakatnya.

2. Tidak Memaksakan Impian Kita 


Jika kita sebagai orangtua pernah memiliki kegagalan dalam menggapai impiannya, jangan sekalipun memaksakan anak mewujudkan impian tersebut. Biarkan ia memilih jalan cita-citanya sendiri. Tugas kita sebagai orangtua hanyalah mengarahkannya, bukan memaksakan. Dengan demikian anak akan punya kepercayaan diri dan  semangat menjalani pilihannya.

3. Dukungan


Tak hanya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan hobinya melalui belajar otodidak maupun mengikuti kursus misalnya, anak juga membutuhkan dukungan moral dari orangtuanya sehingga diharapkan ketika usia anak sudah baligh, ia sudah mampu menentukan mana yang menjadi pilihannya. Kita bisa mewujudkan keinginan anak dan memasukkannya dalam famili project jika keinginannya realistis dan anak menunjukkan kesungguhannya. Jika saat ini Orangtua belum bisa memenuhi keinginan anak karena keterbatasan rejeki, ajak anak terus berdoa agar keinginannya terwujud dan meyakinkan bahwa rejeki yang diberikan Allah sangatlah banyak dan rejeki Orangtua hanyalah sebagian dari rejeki yang Allah berikan.

Nah itu tadi beberapa langkah yang bisa dilakukan agar anak mau menekuni hobinya dengan sungguh-sungguh dan menghasilkan. Pesan saya, jangan pernah paksakan keinginan kita ke anak ya, ikutlah belajar dari anak dan terbukalah.
Keep positif.

Sumber :
The Asian Parent
 Materi Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini IIP

No comments