Memanen Keberkahan dari Griya Schizofren

triana rachmawati, siswandi dan para volunteer griya schizofren
Griya schizofren, komunitas peduli masalah kejiwaan 
Image : website griya schizofren


Tengah viral, seorang anak berusia 3 tahun bernama Rayya meninggal karena cacingan. Yang membuat semakin pedih, ibunya merupakan ODMK ( Orang Dengan Masalah Kejiwaan) dan ayahnya menderita TBC. Banyak isu beredar yang akhirnya menumbuhkan beragam persepsi masyarakat. 

Banyak yang menyalahkan, mengapa ayahnya bisa menikah dengan ODMK. Juga menyayangkan kenapa masyarakat sekitar tidak tanggap terhadap kesehatan keluarga Raya. Lalu ada juga yang menanyakan mengapa Raya dibiarkan dibesarkan oleh seseorang dengan gangguan mental tanpa peran dan pendampingan pemerintah maupun anggota keluarga terdekat.

Stigma negatif tentang ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dan ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan) seringkali membuat mereka sulit diterima masyarakat. Terbatasnya cara berkomunikasi dan keadaan kejiwaan mereka membuat banyak ODMK tersisihkan, dihindari bahkan dipasung. Keberadaan mereka pun sering terabaikan.

Paradigma negatif tersebut mengakibatkan prevalensi gangguan jiwa terus meningkat tiap tahunnya. Data terakhir Survei Kesehatan Nasional (SKN) 2023 menunjukkan angka 4 per 1000 rumah tangga. Dikutip dari CNN Indonesia, penderita gangguan jiwa berat, skizofrenia, menyentuh lebih dari 300.000 jiwa per April 2025.

Minimnya informasi mengenai kesehatan mental di Indonesia berdampak pada anggapan negatif yang menyebut orang dengan gangguan jiwa seharusnya dihindari bahkan ditinggalkan. Banyak yang beranggapan, memiliki anggota keluarga dengan gangguan mental merupakan aib yang perlu ditutup-tutupi. Banyak kasus ODMK  dipasung atau dibiarkan menggelandang di jalanan.

Tria, sapaan akrab Triana Rachmawati merasa, ODGJ dan ODMK seperti halnya sakit fisik yang perlu diobati. Mereka juga manusia yang seharusnya diperlakukan secara humanis. Tergerak menjadi suara bagi mereka yang tak terdengar, di tahun 2012, Tria yang kala itu sebagai mahasiswa UNS bersama dua rekannya, Febrianti Dwi Lestari dan Wulandari mengikuti PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) Pengabdian Masyarakat Universitas Sebelas Maret. Mereka mendirikan komunitas Griya Schizofren. Gagasan tersebut disambut baik oleh Pak Tri, pengurus Griya PMI Peduli.

Awalnya, ada sekitar 30 ODMK di Griya PMI yang dibina Tria dan rekan-rekannya. Mereka bercerita, menyanyi dan Art Therapy dengan menggambar. Tria semakin mengerti, orang dengan kekurangan seperti ODMK ternyata memiliki kelebihan lain yang tidak dimiliki orang lain. Banyak dari mereka yang sebenarnya berbakat. Tria pun menggagas SOLVE by Givo, mengubah gambar mereka menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Griya Schizofren tak tumbuh dalam semalam, hingga tahun kelima, Tria berhasil merekrut banyak volunteer dari berbagai latar belakang pendidikan yang bersedia terlibat aktif  menyalurkan jiwa sosialnya di Griya Schizofren.

Jumlah ODMK yang dibina Tria di griya PMI bertambah dari tahun ke tahun. Suatu kali Tria lelah, karena merasa apa yang dilakukannya stagnan. Tria lalu menceritakan semua kelelahannya menghadapi volunteer kepada Siswadi, suaminya. Inisiatif Siswadi yang merekomendasikan Tria dalam Satu Indonesia Award membuat Tria menerima Apresiasi Program Satu Indonesia Award tahun 2017.

Dari penghargaan itu, banyak yang tergerak berpartisipasi. Sejujurnya, di Indonesia banyak orang baik yang mudah digerakkan. Seni menggambar yang awalnya merupakan bentuk terapi tumbuh menjadi produk yang berdaya jual dan menyentuh banyak kalangan untuk berpartisipasi secara sosial seperti Pertamina, UNS, Astra hingga turis Jerman pernah memesan produk SOLVE by Givo yang dibahas Tria.

Salah satu hasil gambar ODMK, solve by gove
Hasil art theraphy ODMK di Griya Schizofren yang bernilai jual
Image : instagram @givo


Pada akhirnya, ODMK yang tadinya dianggap beban, sebenarnya mampu berkarya asalkan ada peran serta banyak orang yang bersedia merangkul jika kita bisa melihat sisi kelebihan mereka. Masalah Kejiwaan seperti schizofrenia mungkin tidak bisa sembuh, harus rutin minum obat dan dijaga agar tetap stabil secara emosi. Namun, banyak dari ODMK yang akhirnya dinyatakan 'lulus' dan kembali ke keluarganya. 

Tria merasa hidupnya semakin dipenuhi keberkahan setelah merangkul ODMK. Satu persatu impian Tria terwujud. Suatu hari, ketika akan berangkat ke Jepang, Tria yang saat itu tidak memiliki uang saku ke Jepang, memohon doa dari para ODMK. Mengejutkannya, doanya terkabul saat di bandara, tepat saat Tria akan berangkat ke Jepang, ada seorang rekan DPRD yang memberinya uang saku. Tria pun berhasil menjadi ASN dosen di UNS dengan one shot test. Bisnis yang ia kelola bersama suami pun berkembang pesat. Dan Happines Family, kebaikan lain yang dilakukan Tria dalam memberikan beasiswa ke mahasiswa juga bertumbuh.

Saat ini, PMI Solo satu-satunya yang memiliki wadah menggagas dan menampung schizofrenia di Indonesia. Tria masih bermimpi, kedepannya Griya Schizofren dapat hadir di seluruh Indonesia dan menurunkan stigma masyarakat kepada ODMK. 

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url