Cerpen : Embun dan Mentari

Cerpen tentang rasa syukur dan penerimaan

Kuseruput teh hangat kegemaran ku, teh tabur beraroma khas bunga melati yang menemani hari-hariku bertahun-tahun. Teh yang menurutku lebih  nikmat dibanding bermacam jenis teh kekinian yang digemari anak muda masa kini. Girangnya anak-anak bermain di jalan depan rumahku, ada yang bersepeda dan ada yang berlarian. Mengingatkanku tentang kisah beberapa tahun lampau.

***

"Ini gaji bulananmu, bonusnya sudah ibu tambahkan, sebaiknya disisipkan sebagian buat nabung ya dek"

Aku yang berada di depan mereka tercekat. Seperti seorang tangah kehausan sedang menelan ludahnya. Ibuku memberikan gaji bulanan kepada Sonia, adekku. Hal yang juga aku idam-idamkan. Bukan, bukan berarti aku tak ikhlas membantu ibuku, tetapi aku dirundung rasa cemburu. Kepahitan perasaan yang hanya bisa kutelan lama, tanpa sempat terucapkan karena keluguan dan ketakutanku. Sungguh sesuatu yang bodoh, hal yang seharusnya bisa aku abaikan tetapi semakin lama aku mencoba justru yang ada aku semakin terlihat lemah. Bukan, bukan soal gaji yang diterima, tetapi sebentuk perasaan bernama perhatian yang kunanti-nanti.

Di kamar sempit bekas kamar omku yang telah beralih fungsi menjadi gudang dan kini jadi kamarku, satu-satunya tempat peraduan ketika aku merasa getir. Menangis sendiri dan menuliskan segala kesah yang ada. Akhirnya aku berjanji, bahwa selama hidup aku tak perlu lagi menuntut perhatian semacam itu. Aku kuatkan diri, bahwa mulai hari ini aku akan bekerja keras.

***
Smartphone ku berbunyi, ada panggilan masuk. Seorang HRD tengah berbincang kepadaku dan mengundangku wawancara di kantornya 3 hari lagi. Aku bergegas mencatat alamat kantornya dan mempersiapkan berkas yang akan kubawa.

Yes, aku diterima bekerja di bidang yang semenjak dulu aku cita-cita kan. Bekerja sebagai seorang layouter grafis yang kupelajari otodidak. Mereka menerimaku setelah melihat portofolio yang aku ajukan, tertarik dengan desain yang aku buat. Meski gajinya belum sesuai dengan yang aku harapkan tapi setidaknya aku mampu bekerja sesuai passion ku.

Di kantor ini aku temukan teman dan lingkungan yang membuatku tumbuh. Kantor dengan segala hiruk pikuknya, kesibukan di sebuah agensi periklanan yang akhirnya membuatku semakin mahir mendesain dan yang membuatku selalu bisa tersenyum ceria karena kehangatan seseorang. Ya, seseorang yang akhirnya menikahiku.


No comments