Friday, April 26, 2019

Pengalaman Fimosis Bayi 6 bulan

April 26, 2019 0 Comments
Gambar kaki bayi dan tangan ibunya
Memiliki bayi adalah dambaan
Foto : pexel

Gejala awal Fimosis

Beberapa waktu lalu adek sempet panas beberapa hari. Waktu aku curhat ke ibu, aku disarankan agar Tito dipijet aja, mungkin capek soalnya kakinya dingin dan yang panas cuma kepala aja. Aku cuma nurut aja karena beberapa teman pernah bilang mungkin akan tumbuh gigi kalau panasnya cuma kepala aja. Setelah dipijat, panasnya bukannya turun tapi malah lebih tinggi dan siklusnya jadi panas malam hari dan siangnya badan kembali normal dan anaknya ceria-ceria aja, cuma gerakannya tak selincah ketika dia sehat. Lantas aku putuskan membawa adek ke klinik. Dokter menanyakan sudah berapa hari panasnya sambil menghitung dan menanyakan tempat aku tinggal saat ini. Dokter yang juga temenku sedikit kaget karena aku tinggal di daerah endemik demam berdarah. Dokter lalu meresepkan paracetamol dan memintaku kembali dua hari lagi jika tak ada perubahan.

Setelah dua hari, ternyata panas adek tak menunjukkan perubahan. Aku bawa kembali ke klinik dan kali ini suami ambil cuti sehari karena ingin menemani. Dokter akhirnya memberi rujukan agar kami uji lab untuk mengetahui penyebab panasnya karena untuk anak sekecil Tito tak mungkin terkena typhus dan prediksi selanjutnya adalah Demam berdarah. Sudah beberapa puluh orang yang terjangkit penyakit akibat aedes aegepty ini di wilayah kecamatan kami.

Miris juga, antara sedih dan keharusan uji lab untuk bayiku. Setelah diambil darah, petugas medis tersebut meminta kami mengambil hasil lab sekitar sejam . Paksu langsung bergegas mengambil hasil lab dan kembali ke klinik untuk mengkonsultasikan hasil lab. Dari data uji lab, ternyata adek aman dari demam berdarah. Dokter akhirnya merujuk Tito ke Dokter spesialis anak. Prosesnya memang cukup panjang, karena semua ditanggung oleh asuransi kesehatan milik pemerintah. Tapi saya bersyukur karena tak berbelit-belit. Setelah antre dan ditimbang, kami bertemu dokter spesialis anak dan menyerahkan hasil lab. Hasilnya, Tito dicurigai terkena radang atau infeksi. Dokter menanyakan apakah anak kami diare atau batuk pilek, saat kami jawab tidak, dokter lalu meneliti satu persatu dari lubang telinga, hidung, mulut, anus dan penis. Dan akhirnya menemukan bahwa ujung penis adek memerah.
 
Fimosis ini mbak..begitu dokter bilang. Beliau akhirnya meresepkan antibiotik dan menyarankan kami agar Tito dikhitan/sunat. Bapaknya jadi khawatir ketika dokter menyarankan mengkhitan Tito setelah panasnya reda dan antibiotiknya habis. Akhirnya, kami mncari berbagai informasi terkait bayi yang fimosis. Seorang teman juga menyarankan agar anak kami dikhitan saja karena putra beliau yang juga sblumnya terkena fimosis akhirnya dikhitan setelah beberapa kali panas tinggi putranya kambuh akibat fimosis.

Saat kontrol, dokter merujuk kami ke dokter spesialis bedah. Dokter bedah berkesimpulan bahwa Tito sebaiknya tak disunat dulu karena terlalu kecil. Beliau lalu mengambil semacam gunting yang ujungnya bengkok. Lalu membuka lubang penis Tito. Saat itu Tito menangis tapi dokter cuma menenangkan bahwa itu sebetulnya tidak sakit untuk bayi. Padahal yang liat sampe ngeri, dan dokter bedahnya bilang itu tak sakit. hiks...hiks...Setelah selesai, akhirnya kami pulang dan Tito belum jadi dikhitan.

Sebulan berlalu, adek panas tinggi lagi. Setelah dari dokter keluarga, Tito dirujuk ke dokter spesialis anak lagi. Terbayang bahwa adek bakal disunat setelah anjuran dokter tempo sebelumnya. Ternyata adek didiagnosis ISPA karena cuaca sedang dingin, tubuh tidak fit dan terkena virus pula. Dokter spesialis anak tetap menyarankan kami untuk rujuk ke dokter bedah lain untuk mencari opsi pembanding sehingga lebih yakin apakah akan jadi disunat atau tidak. Namun, hingga hari ini saya menunda mengkhitan Tito karena menurut kami usianya masih terlalu kecil. Meski demikian, hingga sejauh ini Alhamdulillah setelah treatment dokter bedah hari itu, Tito sudah bisa pipis dengan normal.

Thursday, April 25, 2019

Mendidik Anak Cerdas Finansial Usia Dini Hari ke 1

April 25, 2019 0 Comments
Mendidik anak cerdas finansial bisa diajarkan kepada anak sejak dini. Semakin cepat semakin baik menurut saya.Bagaimanapun,  rejeki itu pasti dan kemuliaan harus dicari. Rejeki dari Allah yang bisa berwujud makanan, hubungan baik, uang datang dari Allah dan anak kita, tetapi bagaimana agar rejeki tersebut bisa dimanfaatkan untuk mencapai keberkahan dan kemuliaan itulah yang harus diajarkan. Bukan untuk boros dan membeli hal yang tak bermanfaat tapi untuk membeli yang kita perlukan saja.
Di hari pertama ini, saya belum menyiapkan stoples 3S (Save, Spend, Share) untuk kakak karena kebetulan kencleng atau stoples save nya kami sudah punya dan tinggal menjalankan sebagaimana biasanya sambil mengajarkan di sisi spend dan share nya ke kakak karena saya merasa hal ini masih kurang. Di hari pertama melatih anak agar cerdas finansial ini saya isi dengan mencoba mengingatkan kembali ke kakak untuk tidak minta jajan ke tukang sayur jika ibu tidak ada.
Sebenarnya saya sudah mencoba berbicara ke bapak tukang sayurnya agar tidak memberikan jajan ketika kakak meminta atau terbujuk temannya yang jajan di tukang sayur meskipun sudah pasti disampaikan ke saya. Beberapa kali saya meminta kakak untuk bilang ke ibu saat mau beli di tukang sayur atau pulang terlebih dahulu.
Hari ini saya memberitahunya lagi sekaligus menceritakan cerpen yang ada di majalah bobo kakak tentang gimik. Gimik atau Gimmick adalah barang atau aktivitas untuk menarik pembeli membeli sebuah produk. Misal di supermarket sebuah mug atau kotak makan dipakai produsen susu memasarkan produknya, atau piring pada detergen atau hadiah boneka di susu anak-anak.
Foto halaman majalah bobo tentang Gimik
Cerita Tentang Gimik

Nah di cerita ini, Sisi diajak ibunya berbelanja ke Supermarket untuk membeli kebutuhan bulanan termasuk sabun cuci piring dan susu. Di saat ibunya akan mengambil sabun cuci piring ternyata pandangan justru tertuju pada piring hadiah dari sabun cuci merk lain dan membuat ibu kepincut ingin membelinya juga. Selanjutnya ada anak yang merengek minta Susu karena ada hadiah boneka yang menyertainya namun orangtuanya justru mengajak anaknya mengutil bonekanya dan mengantonginya. Kemudian ketika Sisi dan ibunya bertemu SPG yang menawarkan susu sekaligus mug bonusnya asalkan membeli 3 kardus susu membuat ibunya akhirnya memasukkan susunya ke keranjang belanja. Mereka kaget ketika uang yang dibawa ibu Sisi tak cukup untuk membayar semua yang dibeli hari itu. Akhirnya dengan ramah, kasir menawarkan ibu Sisi untuk mengurangi belanjanya. Terpaksa ibunya mengembalikan 2 dus susunya dan membatalkan sabun cuci berhadiah piring tadi. Dari cerita ini, hikmah yang diambil agar kita membeli atau berbelanja sesuai kebutuhan bukan keinginan. Tak lupa saya menyisipkan contoh beberapa hari lalu ketika kakak merengek minta pasta gigi dan sikat gigi baru bergambar barbie. Saya jelaskan bahwa pasta gigi yang ada di rumah masih banyak jadi kita tak perlu membelinya dulu dan sikatnya akan kita belikan bersama kebutuhan bulanan berikutnya.

Aliran Rasa game level 7 bunda sayang

April 25, 2019 0 Comments
Setelah game level 7 bertemakan “semua anak adalah bintang” saya lalui dan membaca ulang materi pandu 45, saya baru menyadari bahwa ternyata kakak memiliki karakter berikut :
  1. Energizing memiliki energi yang berlebih, tidak bisa diam anteng bahkan di rumahpun semua bisa jadi mainan. Dari keranjang baju yang dijadikannya ring basket, sehari berlarian di depan rumah dan masih banyak lagi. Kakak juga seolah tidak punya lelah dalam melakukan segala hal dan ini sudah teramati dari kecil. Berlarian, bermain pasir, naik lemari dan rak susun, membuat kemah di rumah, bermain boneka, bermain air dan mencuci baju dan bahkan kadang ikut ngepel dan bersih-bersih kamar mandi. Tak jarang kadang justru membuat saya agak kewalahan. Malamnyapun ketika tidur kakak lebih sering berputar kesana sini.
  2. Maximizer, suka sesempurna mungkin. Ini berdasarkan pengamatan beberapa kali ketika minta dikuncir rambutnya sampai sekitar 7-8 kali kakak baru puas karena merasa pas posisinya, memasang karet di boneka dilakukannya hingga berulang, memasang tangan boneka yang lepaspun demikian, kalau sudah berulang tapi belum sesuai keinginannya maka hal ini akan membuat kakak berteriak seperti frustasi.
  3. Includer & relator, merasa tak tahan sendirian dan akan keluar rumah dan mengunjungi temannya, kakak juga suka kalau diajak jagong manten, mengunjungi teman saya yang lahiran,  silaturahmi ke tempat teman atau saudara saya serta suka kalau banyak teman di rumahnya. Kadang digiringnya teman yang diluar untuk main ke dalam rumah. Selanjutnya kakak keluarkan semua mainannya di kardus mainan dan mengajak semuanya bermain bareng. Kadang berselisih tapi setelah itu baikan dan main bareng lagi.
  4. Strategic, pintar mencari cara agar keinginannya tersampaikan. Kadang kalau meminta sesuatu memakai alasan kalau adeknya yang pengen. Kalau waktu kecil kakak suka ngajak sekolah sekolahan dengan berjalan keluar komplek hanya karena alasan ingin jajan sebetulnya. Pernah bahkan embahnya merasa “dibohongi” karena kakbilang ke embah bahwa akan ada saudara yang datang dan meminta
  5. Commander, yang benar-benar saya tak ketahui karena kadang menimbulkan teriakan karena ketidakpahaman saya dan kurangnya komunikasi produktif.
  6. Ideation, semua yang dilihat bisa jadi ide bermain. Mengambil sayuran di kulkas dan digunakan untuk mainan, mbuatkan baju bonekanya dari kaus kaki adeknya yang sudah kekecilan dan memakaikn karet agar tak terlepas. Menanam bunga ala kakak memakai pasir dan bunga yanh ditancapkan ke gelas mainan..hehe ini karena saya belum lengkap mengajari cara bercocok tanam kepada kakak.
  7. Competiton, ada bagus dan tidaknya menurut saya karena kakak seperti jadi suka ikut-ikutan temannya soal memelihara ikan, tapi semoga ini bukan soal kompetisi kepemilikan materi ya..
Dari yang sebelumnya saya merasa beberapa karakter ini negatif buat saya, akhirnya saya hanya perlu mengarahkan bahwa karakter kakak menjadi bagian positif untuknya. Dengan kelebihan ini, kakak menjadi unik karena semua anak adalah bintang. Semua anak adalah bagian yang unik dan semua anak itu very limited edition, tidak ada anak yang sama bahkan kembarpun demikian. Maka jangan samakan anak dengan parameter yang ada tapi buatlah standar sesuai karakternya. Selama anak tidak melanggar norma yang ada dan ak melanggar agama dan selama itu baik maka didiklah anak sebaik mungkin sesuai jamannya..

recent posts

Featured post

Kenangan : Traveling Bersama Bapak Saat Kecil

Aku selalu ingat, kala bapak mengajakku traveling kala kecil dulu. Ini menjadi permata pengalamanku yang tak bisa kulupakan. Bahkan hingga...