Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Saturday, November 2, 2019

Akhirnya

November 02, 2019 0 Comments
Bu Merry meminta Orangtua Rudi untuk datang ke sekolah pada hari Senin. Kala itu, di kelas sedang berlangsung pelajaran IPA yang diampu oleh Bu Rini. Teman-teman tak menaruh curiga ketika Rudi dipanggil Bu Merry ke ruang kepala sekolah. Bu Merry menjelaskan semuanya. Mulai dari kebiasaan Rudi main game online, hingga perbuatan mencuri uang  Nadia dan Nola yang disesalkan.

"Bu Merry jadi ingat sebuah kisah.."
"Kisah apa Bu?"
"Seorang anak yang dengan berani mengakui kesalahannya. Meski hatus menanggung malu akibat perbuatannya, kejujurannya tersebut membuat Raja menghadiahinya segenggam emas. Orangtuanya yang tadinya bersedih karena anaknya kini justru bangga karena anaknya adalah anak yang jujur dan mengakui kesalahannya"

Intinya, setiap orang pasti pernah berbuat salah dan hanya yang mau menjadi baiklah yang mau berubah. Terenyuh mendengar perkataan Bu Merry, Rudipun terisak.

Orang tua Rudi yang malu atas perbuatan Rudi meminta maaf atas perbuatan Rudi dan mengembalikan uang Nola yang hilang. Rudi yang tak berani menatap Bu Merry juga turut meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Bersyukur Rudi punya teman seperti Nola dan Nadia yang tetap bisa memaafkan Rudi dan mampu menjaga rahasia bahwa Rudi yang kala itu mencuri uang mereka. Rudi akhirnya perlahan-lahan mengurangi kebiasaan bermain game online. Hobi baru yang mulai Rudi tekuni kini adalah bersepeda dan bermain bola bersama teman-temannya.

Pengakuan

November 02, 2019 0 Comments
Saat malam, setelah ishoma semua siswa berkumpul di tengah lapangan untuk mengikuti api unggun. Beberapa guru pembina yang diketuai Pak Sis mengarahkan acara pentas seni di api unggun tersebut dengan mengajak siswa bernyanyi, membaca puisi, dan mendongeng. Sementara Bu Merry, Bu Wati dan Pak Hadi mengajak Rudi ke depan aula.

"Rudi, ibu mau tanya baik-baik, apa yang kamu lakukan siang ketika lomba memasak menu makan siang?" Tanya Bu Merry
"Saya membantu Ndaru mempersiapkan masakan dan membuang sampah Bu" ujar Rudi dengan tenang
"Apa yang kamu lakukan di depan aula tadi siang? Bu Merry melihat kamu berjalan ke arah tanaman pagar?"
" Hanya menyimpan uang saya Bu, tapi uangnya sudah hilang'.
Rudi dengan tenang menjawab pertanyaan Bu Merry tanpa menunjukkan perasaan bersalah.
"Apa bukti kalau itu uangmu?
" Saya membawa uang lembaran lima puluh ribuan dua yang diberikan Orangtua saya Bu"
Bu Wati yang baru saja menghampiri Nadia datang. Pak Hadi dan Bu Merry juga menanyakan perihal hilangnya uang Nadia.

"Saya masih ingat ciri-ciri uangnya Bu, ada huruf vokal AIUEO di pojok kanan atasnya Bu"
Bu Merry mengeluarkan uang dari saku jaket yang dikenakannya. Segera dibolak-balik uang tersebut. Dengan bantuan sorot lampu dari hp, Bu Merry  mulai meneliti uang tersebut dengan seksama karena cahaya yang remang-remang kala itu. Betapa terkejutnya Bu Merry ketika mengetahui bahwa di ujung salah satu lembar lima puluhan tersebut memang ada tulisan seperti yang Nadia maksud.

Rudi yang tadi berwajah tenang mendadak berubah raut mukanya. Sambil menunduk, Rudi mengusap keningnya kala itu padahal malam itu langit lumayan cerah. Sudah pasti tidak ada penghalang yang menahan panas matahari yang membuat malam itu dingin.

Dengan wajah yang pucat pasi, Rudi akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada Nadia, Bu Merry, pak Hadi dan Bu Wati. Tanpa ditanya, Rudi juga mengakui bahwa ia yang mengambil uang iuran sekolah Nola kala itu. Rudi  merasa bersalah, kebiasaannya bermain game online telah membuatnya hilang akal dan mengambil uang SPP Nola agar tetap bisa bermain berjam-jam di game center.

Friday, November 1, 2019

Kehilangan uang di Persami

November 01, 2019 0 Comments
Setelah mendengarkan pengarahan kepala sekolah tentang rundown acara dan lomba yang akan diadakan pada upacara pembukaan PERSAMI, semua anak bergegas memasuki tenda untuk mempersiapkan perlombaan yang akan diikuti. Satu kelompok yang terdiri dari 12 hingga 15 anak berada dalam satu tenda. Salah seorang kakak kelas 6 di tenda ditunjuk menjadi ketua yang bertanggung jawab pada anggota di tendanya. Bu Wati bertanggung jawab membimbing kelompok 1, berikutnya ada Bu Merry di kelompok 2, Pak Hadi di kelompok 3, Pak Sis di kelompok 4 dan beberapa guru yang lain juga mengampu para siswa agar tetap menjaga kebersihan dan kenyamanan tenda serta kekompakkan timnya.

Jam telah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Anak-anak mempersiapkan peralatan memasak di aula SD Pabelan yang letaknya berada di pinggir lapangan tempat mereka berkemah. Lomba pertama dimulai, kali ini para siswa mengkreasikan lauk dan sayur yang telah mereka siapkan dari rumah. Nola, kak Nabila, Fina, kak Dhea dan Kak Tiara mulai menggoreng lauk, sementara 5 anak lain mempersiapkan nasi yang harus diambil di tenda guru, dan sisanya bertugas mempersiapkan tempat dan minuman untuk teman-teman mereka makan siang. Bu Merry yang mengkoordinir mengarahkan siswanya agar bekerja dengan baik. Bu Merry lalu berkeliling melihat hasil pekerjaan kelompok lain sambil icip-icip masakan para siswa.

Saat perjalanan menuju kelompok anak laki-laki, Bu Merry melihat Rudi, teman sebangku Ndaru menunjukkan  gerak-gerik seperti takut ketahuan. Seperti menyelipkan sesuatu diantara tanaman pagar di depan aula. Bergegas Rudi kembali ke aula dan tanpa disadari perilakunya tertangkap Bu Merry. Bu Merry lalu mendekati tanaman pagar tersebut untuk mengecek apa yang telah diselipkan Rudi.

"Astagfirullah " ucap Bu Merry ketika tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya.
"Ada apa Bu?" Tanya Bu Wati kepada Bu Merry dengan penuh penasaran
"Ayo ikut saja!" Ajak Bu Merry
Mereka berdua mendapati 2 lembar uang lima puluh ribu rupiah terselip diantara tanaman pagar. Bu Merry dan Bu Wati lalu merahasiakan yang terjadi sambil mengusut asal uang yang diselipkan Rudi.

Sore, ketika kegiatan ishoma berlangsung, tiba-tiba ada Nadia, anak kelas 3B melapor kepada Pak Hadi bahwa ia telah kehilangan uangnya di dalam tas. Bu Wati dan Bu Merry yang ada di dekat Pak Hadi memasang wajah penuh selidik karena ternyata uang yang hilang tersebut berjumlah seratus ribu. Bu Merry dan Bu Wati saling berpandangan seakan paham yang terjadi. Dengan hati-hati Bu Merry dan Bu Wati akhirnya melakukan sidak di tenda. Tak ada satupun siswa yang terlihat membawa uang atau memasukkannya ke dalam tas atau berada di sekitar tenda. Bu Merry dan Bu Wati melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk menghindari prasangka buruk tentang kejadian siangnya .


Thursday, October 31, 2019

Persami, perkemahan Sabtu minggu

October 31, 2019 1 Comments
Persami Perkemahan Sabtu Minggu
Persiapan PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu) kurang tiga hari lagi. Bu Merry membagikan secarik kertas berisi surat pemberitahuan akan diadakannya perkemahan ini sekaligus dilampirkan surat ijin Orangtua yang harus diisi dan dikembalikan besok pagi. Bu Merry juga membagi siswa menjadi beberapa kelompok putra dan putri serta memberikan list peralatan yang harus dibawa masing-masing kelompok. Nantinya, masing-masing tenda akan diisi 3 kelompok berdasarkan jenis kelamin dan nomor kelompoknya. Jadi, masing-masing tenda akan berisi 2 kelompok yang terdiri dari kelas 4,5 dan 6.

Masing-masing tenda akan dibimbing oleh 2 pembina pramuka yang juga guru sekolah mereka.
Rencananya, para siswa akan berkemah di Desa Bringin Kabupaten Semarang yang berjarak 20 km dari Salatiga. Lokasi yang dipilih adalah lapangan SD Pabelan 1 yang dekat dengan pemukiman warga sehingga memungkinkan akses air bersih dan tempat outbound yang dijamin menyenangkan.

Tiba ketika hari H, semua anak berkumpul di sekolah sebelum nantinya diangkut menuju bumi perkemahan menggunakan truk ABRI. Para guru mengabsen dan melakukan briefing kepada para siswa terlebih dahulu sebelum satu-persatu siswa menaiki truk. Setelah semua pengecekan dilakukan, para siswa siap menaiki truk.

Sesampai di lokasi yang perkemahan, para siswa dibantu guru menurunkan peralatan yang dibawa dan membawanya menuju tenda yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tenda yang dipakai untuk berkemah ternyata lumayan luas. Tenda warna hijau daun yang dipakai merupakan tenda milik ABRI yang dipinjam pihak sekolah.

Setelah memasukkan tas dan merapikan peralatan dan perlengkapan yang dibawa di tenda, para siswa mengikuti upacara pembukaan PERSAMI yang dipimpin oleh Pak Ridwan, yang menjabat sebagai kepala sekolah .

Kejadian di kelas

October 31, 2019 12 Comments
Kejadian di kelas
"Sssssttt.." sambil memberi kode , Rian menarik tangan Ndaru yang mau masuk kelas
"Kenapa Ri?" Tanya Ndaru
"Nanti aku ceritakan, sekarang sebaiknya kamu ikuti aku saja!" Bisik Rian
Mereka berdua sedang mengawasi gerak-gerik mencurigakan Varo yang berulangkali mondar-mandir keluar masuk kelas. Gerak-geriknya yang mencurigakan saat masuk kelas membuat Rian, sang ketua kelas mengawasinya. Beberapa hari yang lalu kelas dikejutkan dengan hilangnya uang iuran sekolah Erina yang ditaruhnya di dalam tas. Erina tersadar akan menyerahkan iuran sekolah tersebut ketika bel istirahat pertama berakhir. Bergegas Erina yang saat itu bersama Nola menuju kelas dan didapatinya uang iuran tersebut telah raib. Setelah berusaha mencarinya dan tidak ketemu, akhirnya Erina ditemani Nola melapor ke bu Merry, wali kelasnya.
Karena kejadian itu, Bu Merry dibantu Pak Hadi melakukan sidak di dalam kelas. Anehnya, tak ada satupun siswa yang terbukti mencuri uang Erina. Berbagai pertanyaan dilontarkan Bu Erina kepada siswa-siswinya. Mulai dari yang tinggal di kelas saat istirahat hingga yang mendekati bangku tempat duduk Erina hingga akhirnya Bu Merry bertanya mengenai uang iuran sekolah tersebut ke Orangtua Erina yang saat itu tengah bersedih karena uangnya hilang
Benar saja, ketika dikonfirmasi ke orangtuanya, ternyata Erina betul-betul membawa uang iuran hari itu. Nola,teman sebangkunya pun sempat melihat juga saat Erina memasukkan lembar iuran tersebut ke tasnya. Peristiwa kehilangan ini  baru pertama kali terjadi di kelas 4A bahkan di kelas 4 sehingga Bu Merry tak bisa menduga siapa pelaku pencurian uang tersebut.
Tidak ada satu siswa pun yang menunjukkan perilaku janggal saat sidak tersebut berlangsung. Apalagi, kelas 4A selama ini dikenal sesebagai gudangnya siswa unggulan. Sudah sering siswa  kelas 4A diikutkan berbagai macam lomba , baik lomba mapel, lomba kesenian ,lomba qiroati, bahkan lomba sains. Kelas 4A juga turut menyumbang berbagai piagam penghargaan dan trophy selama tahun 2019.
Siapa sangka jika kelas 4A mengalami peristiwa pencurian tersebut. Hingga akhirnya berita itupun ramai di seantero sekolah. Berbagai opini dan persangkaan muncul tentang siapa pelaku pencurian di kelas 4A tersebut.

Saturday, October 26, 2019

Arsyad sakit perut

October 26, 2019 0 Comments
Gambar Mario bross, Arsyad sakit perut
Lima menit lagi jam istirahat pertama selesai. Arsyad segera mengembalikan buku bacaan yang ia baca di perpustakaan. Bergegas ia menuju kelas untuk mengikuti materi pelajaran selanjutnya.

Arsyad suka sekali membaca buku tentang militer. Ia hafal segala hal berbau militer mulai dari kendaraan, profesi dan senjata yang berhubungan dengan militer. Kegemarannya ini muncul karena Arsyad sering mendengar tentang perjuangan kakeknya dahulu semasa berperang melawan penjajah. Kakek seorang tentara pelajar yang selain bertugas di Medan perang juga berkewajiban belajar. Bahkan salah satu teman kakek pernah menjadi menteri di era orde baru.

"Ar, kamu sudah mengerjakan PR yang kemarin lusa ditugaskan Bu guru? " Tanya Anton seraya mengeluarkan buku PRnya
"IPA ada PR? Waduh...aku kok bisa gak tau ya? di buku PR ku tak ada catatan PR"
Seketika keringat Arsyad bercucuran saat Anton memperlihatkan PR yang diberikan Bu guru kemarin lusa. Perasaan Arsyad betul-betul panik kala itu.

Tiba-tiba Arsyad merasa mual, perutnya terasa perih kala itu. Ketika Bu guru datang memasuki kelas, keringat Arsyad semakin bercucuran. Wajahnya yang berubah menjadi pucat ternyata diketahui Bu Lani.

"Kamu baik-baik saja Ar?"
"Sepertinya saya kurang enak badan Bu, perut saya sakit" keluh Arsyad sambil menekuk perutnya yang nyeri
Bu Lani lalu meminta Adit, teman sebangku Arsyad  mengantar dan menemani Arsyad , menuju UKS. Di UKS, Arsyad menanyakan PR IPA tersebut kepada Adit. Dan ternyata Adit juga belum mengerjakan PR IPA tersebut. PR yang diberikan Bu Lani memang cukup banyak, ada sekitar 40 soal isian yang harus dijawab lengkap. Untuk mencari jawabannya murid-murid kelas 4 diminta  mencarinya lewat internet.

Arsyad yang kala itu mendengar kalau Adit juga belum mengerjakan PR merasa lega. Ternyata, ia mempunyai teman yang sama-sama tidak mengerjakan PR. Perut Arsyad yang tadinya terasa perih tiba-tiba menjadi nyaman. Dia merasa memiliki teman yang senasib sepenanggungan.

Saat istirahat kedua berlangsung, Anton, Tari dan Monika menemui Arsyad dan Adit di ruang UKS.
"Bagaimana Ar, masih sakit perut? " Tanya Monika
" Sudah enggak Mon, PR nya tadi dikoreksi Mon?
" Oh, PR IPA? tidak jadi dikoreksi sekarang Ar, Bu Lani memberikan materi pelajaran lagi dan PR nya akan dikoreksi Minggu depan"

Arsyad kaget mendengar kalau PR nya tak jadi dikoreksi hari ini. Saat PR tersebut diberikan, Arsyad dipanggil pak Raharja untuk gladi bersih upacara hari Senin. Arsyad yang sering ditugaskan menjadi pemimpin upacara terpaksa tak mengikuti mata pelajaran  jam terakhir hari Sabtu kemarin. Arsyad mendapati kelas dalam keadaan sepi, teman-temannya sudah pulang ketika latihan untuk persiapan upacara selesai.

Sesampai di rumah, Arsyad justru keasyikan bermain smartphone. Ibu yang berulang kali mengingatkan agar Arsyad belajar dan mengerjakan PR tak dipedulikannya. Arsyad memang jarang bermain di luar. Kebiasaannya yang gemar membaca buku dan bermain game membuatnya lupa menentukan prioritas seperti yang ayah dan ibu ajarkan padanya.

"Harusnya aku tanyakan kepada Anton dahulu perihal PR sebelum bermain handphone. Aku juga tak perlu menunda-nunda waktu belajar gara-gara
Handphone. Kuakui aku malu, sampai perutku sakit gegara kepanikan ku belum mengerjakan PR" keluh Arsyad. Dari kejadian itu Arsyad berjanji untuk selalu bertanya tentang pelajaran yang tidak bisa diikutinya. Kegagalan menentukan prioritas membuat Arsyad sakit perut di sekolah. "Besok, tidak lagi-lagi" ujar Arsyad meyakinkan diri.


 Oh My GOD..---

recent posts

Featured post

Kenangan : Traveling Bersama Bapak Saat Kecil

Aku selalu ingat, kala bapak mengajakku traveling kala kecil dulu. Ini menjadi permata pengalamanku yang tak bisa kulupakan. Bahkan hingga...